Sentuhan Estetika Korea di Kota Militer: Yayasan Jalur Positif dan FIC Gelar Workshop Merangkai Bunga

Dipublikasikan pada November 21, 2025 oleh Yayasan Jalur Positif

Audi Flower Studio

Atmosfer Museum Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI mendadak berubah menjadi lebih berwarna dan harum pada Sabtu, 22 November 2025. Gedung bersejarah yang biasanya kental dengan nuansa formal tersebut menjadi saksi perpaduan antara seni merangkai bunga modern dengan antusiasme tinggi para pelaku industri kreatif dalam acara Pelatihan Merangkai Bunga Korean Style.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Jalur Positif yang bekerja sama dengan Florist Indonesia Community (FIC). Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan penyegaran teknik sekaligus memperluas wawasan bisnis bagi para penggiat bunga di wilayah Jawa Tengah, khususnya Magelang dan sekitarnya.

Membawa Tren Global ke Lokal

Tren Korean Style Flower Arrangement memang tengah merajai pasar dekorasi dunia, termasuk Indonesia. Ciri khasnya yang terletak pada penggunaan warna-warna pastel, pemilihan bunga yang beragam (mix blooms), serta teknik pembungkusan (wrapping) yang bervolume namun tetap terlihat natural, menjadi daya tarik utama bagi generasi muda dan pasar pernikahan modern.

Ketua Yayasan Jalur Positif menyampaikan bahwa pemilihan tema ini bukan tanpa alasan. "Kami melihat adanya kebutuhan pasar yang besar terhadap gaya Korea ini. Namun, tekniknya tidak semudah yang terlihat. Butuh ketelitian dan rasa seni yang tinggi untuk menghasilkan rangkaian yang terlihat ' effortless' namun mewah," ujarnya di sela-sela acara.

Menghadirkan Dua Maestro Florist

Pelatihan ini menghadirkan dua mentor berpengalaman yang namanya sudah tidak asing lagi di jagat perbungaan nasional. Mentor pertama adalah Tina Meliana, pemilik dari Audi Flower Studio asal Solo. Tina dikenal sebagai ahli dalam komposisi warna dan teknik wrapping berlapis yang menjadi kunci utama keindahan buket ala Korea.

Mentor kedua adalah Endang Hariyaningsih, pemilik Ririn Florist dari Cepu. Endang membawa perspektif mengenai pemilihan material bunga lokal yang bisa disulap menjadi rangkaian kelas atas, serta bagaimana menjaga ketahanan bunga dalam iklim tropis seperti Indonesia.

Kombinasi kedua mentor ini memberikan paket lengkap bagi peserta: Tina dari sisi estetika modern, dan Endang dari sisi teknis material dan ketahanan.

Endang Hariyaningsih - Ririn Florist Cepu

Antusiasme Lintas Komunitas

Acara ini tidak hanya menarik minat para perangkai bunga profesional. Dari data panitia, tercatat lebih dari seratus peserta memadati area workshop. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari:

  • Komunitas Korea: Para pecinta budaya K-Pop dan K-Drama yang ingin mendalami aspek seni visual Korea.

  • Florist dan Dekorator: Profesional yang ingin memperbarui portofolio dan teknik mereka agar tetap relevan dengan tren terbaru.

  • Wedding Organizer (WO): Untuk memahami standar estetika terbaru yang sering diminta oleh calon pengantin.

  • Aktivis Gereja: Yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dekorasi altar dan ruang ibadah di Magelang.

"Saya datang dari Temanggung pagi-pagi sekali karena ingin belajar langsung dari Bu Tina dan Bu Ririn. Di sini kami tidak hanya diajarkan merangkai, tapi juga bagaimana menghitung costing agar bisnis tetap profit tapi hasil tetap cantik," ungkap salah satu peserta yang memiliki toko bunga rumahan.

Sesi pertama dimulai dengan demonstrasi oleh Tina Meliana. Dengan cekatan, ia menunjukkan cara memegang gunting yang benar hingga teknik memasukkan bunga ke dalam floral foam agar nutrisi bunga tetap terjaga. Ia menekankan pentingnya "ruang bernapas" dalam sebuah rangkaian.

"Dalam gaya Korea, kita tidak boleh menumpuk bunga terlalu rapat hingga terlihat sesak. Berikan jarak, biarkan setiap bunga bercerita dan menunjukkan kecantikannya masing-masing," jelas Tina saat mendemonstrasikan teknik hand-tied bouquet.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Endang Hariyaningsih yang memfokuskan pada aspek visual keseluruhan dan pemilihan warna. Ia mengajak peserta untuk berani bereksperimen dengan gradasi warna yang tidak biasa, namun tetap terlihat harmonis.

Dampak Ekonomi dan Kreativitas

Selain sebagai ajang berbagi ilmu, kegiatan ini juga menjadi sarana jejaring (networking) antar pelaku usaha kreatif. Florist Indonesia Community (FIC) berharap melalui acara ini, standar kualitas perangkai bunga di daerah dapat setara dengan kota-kota besar.

"Magelang memiliki potensi pasar yang besar, apalagi dengan banyaknya destinasi wisata dan hotel bintang lima di sekitarnya. Dengan menguasai teknik Korean Style, florist lokal bisa bersaing dan tidak perlu lagi mendatangkan tenaga ahli dari luar kota untuk acara-acara besar," tutur perwakilan dari FIC.

Yayasan Jalur Positif sendiri berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa yang berdampak langsung pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut mereka, seni merangkai bunga adalah perpaduan antara hobi dan bisnis yang menjanjikan, terutama pasca pandemi di mana permintaan akan hantaran dan dekorasi rumah meningkat pesat.

Penutup yang Manis

Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Kegiatan ini membuktikan bahwa kreativitas tidak memiliki batasan geografis. Dengan pelatihan yang tepat dan mentor yang mumpuni, potensi kreatif warga Magelang mampu menghasilkan karya yang berkelas.