PELATIHAN MERANGKAI BUNGA DAN PENDIRIAN KOMUNITAS KOREA OLEH YAYASAN JALUR POSITIF
Gedung bersejarah Museum BPK RI Magelang menjadi saksi bisu sebuah kolaborasi lintas budaya dan kreativitas yang memukau pada Sabtu, 22 November 2025. Di tengah suasana penuh sejarah, Yayasan Jalur Positif bekerja sama dengan Florist Indonesia Community (FIC) DPW Jawa Tengah menggelar pelatihan merangkai bunga bertajuk Korean Style Flower Arrangement.
Acara ini bukan sekadar pelatihan keterampilan tangan, melainkan menjadi momentum bersejarah dengan diresmikannya Magelang Korea Community (MAKO). Kegiatan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari rangkaian Pameran Karikatur Rakyat Berdaulat yang diinisiasi oleh harian Suara Merdeka.
Sinergi Antar Lembaga: Menghidupkan Ekosistem Kreatif
Kemeriahan acara sudah terasa sejak siang hari. Seratusan peserta yang didominasi oleh pegiat seni, pengusaha bunga, dan anak muda pecinta budaya Korea berkumpul di kompleks Museum BPK RI. Kehadiran tokoh-tokoh penting mempertegas bobot strategis dari kegiatan ini.
Hadir secara langsung Ketua Umum Yayasan Jalur Positif, Irwanadi Churrochman, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun jejaring komunitas yang produktif. Menurutnya, Yayasan Jalur Positif berkomitmen untuk terus menjadi jembatan bagi pengembangan potensi masyarakat, baik di bidang sosial maupun ekonomi kreatif.
"Kami ingin menciptakan jalur-jalur baru bagi masyarakat Magelang untuk berkembang. Kolaborasi dengan FIC dan pembentukan MAKO adalah langkah konkret dalam memperluas cakrawala budaya dan peluang ekonomi melalui seni merangkai bunga yang sedang tren," ujar Irwanadi.
Pihak Florist Indonesia Community (FIC) juga memberikan dukungan penuh. Ketua Umum Pengurus Pusat FIC, Sudarmanto, bersama Ketua DPW FIC Jateng, Okti Prastiyono, hadir memantau jalannya pelatihan. Sudarmanto mengapresiasi antusiasme warga Magelang dan melihat potensi besar florikultura di wilayah Jawa Tengah yang bisa dipadukan dengan gaya modern seperti Korean Style.
Peresmian MAKO: Wadah Baru Pecinta Budaya Korea
Puncak acara ditandai dengan peresmian Magelang Korea Community (MAKO). Komunitas ini dibentuk sebagai wadah bagi masyarakat Magelang yang memiliki minat besar terhadap budaya Korea, mulai dari bahasa, seni, hingga gaya hidup, guna menyalurkannya ke arah yang positif dan edukatif.
Peresmian dilakukan secara simbolis oleh Pandu Wedha Kusuma, Branch Manager Korean Centre College (KCC) Magelang. Dalam pidatonya, Pandu menyatakan bahwa kehadiran MAKO akan mempererat hubungan emosional dan pertukaran ilmu antara Indonesia dan Korea Selatan di tingkat lokal.
"MAKO bukan hanya soal K-Pop atau K-Drama. Ini adalah ruang kolaborasi. Hari ini kita mulai dengan seni merangkai bunga, besok bisa jadi pengembangan bahasa atau kerja sama pendidikan. Kami di KCC Magelang siap mendukung penuh setiap langkah MAKO kedepannya," tegas Pandu Wedha Kusuma.
Pelatihan Korean Style: Memadukan Minimalisme dan Keanggunan
Memasuki sesi inti, para instruktur dari FIC DPW Jateng memandu peserta dalam teknik merangkai bunga gaya Korea. Berbeda dengan gaya tradisional yang cenderung padat, Korean Style mengedepankan prinsip natural looks, penggunaan warna-warna pastel (earth tone), dan permainan ruang kosong yang memberikan kesan elegan serta puitis.
Okti Prastiyono menjelaskan bahwa teknik ini sangat diminati di pasar global saat ini. "Gaya Korea menekankan pada pemilihan kertas pembungkus (wrapping) yang estetik dan cara meletakkan bunga seolah-olah mereka masih tumbuh secara alami. Ini adalah peluang bisnis yang sangat menjanjikan bagi para florist di Magelang," jelasnya.
Para peserta tampak antusias memotong batang bunga, mengatur komposisi warna, hingga membungkus buket dengan teknik khusus yang diajarkan. Hasil karya para peserta kemudian dipamerkan di area museum, bersanding dengan karya-karya karikatur yang sedang dipamerkan.
Bagian dari Pameran Karikatur Rakyat Berdaulat
Kegiatan ini terasa semakin istimewa karena menyatu dengan spirit Pameran Karikatur Rakyat Berdaulat oleh Suara Merdeka. Perpaduan antara seni visual karikatur yang sarat akan kritik sosial yang tajam dengan kelembutan seni merangkai bunga menciptakan kontras yang unik di Museum BPK RI.
Perwakilan Suara Merdeka menyatakan bahwa kehadiran komunitas florist dan pecinta budaya Korea memberikan warna baru dalam pameran tersebut. Hal ini membuktikan bahwa koran legendaris Jawa Tengah ini terus relevan dengan merangkul berbagai lapisan komunitas kreatif.
Harapan Masa Depan
Acara yang berlangsung hingga sore hari ini ditutup dengan sesi foto bersama dan komitmen untuk mengadakan kegiatan lanjutan. Dengan terbentuknya MAKO dan terjalinnya kerja sama antara Yayasan Jalur Positif, FIC, dan KCC, Kota Magelang kini memiliki energi baru dalam peta kekuatan ekonomi kreatif di Jawa Tengah.
Museum BPK RI, yang biasanya kental dengan suasana formal kenegaraan, hari itu berubah menjadi pusat inkubasi kreativitas yang dinamis. Melalui bunga dan diplomasi budaya, Magelang menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.
